NABIRE – Pemerintah Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, tengah menyiapkan program Gerakan Wajib Tani sebagai langkah strategis untuk mendorong masyarakat memanfaatkan lahan pertanian sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan keluarga.
Kepala Distrik Nabire Barat, Osea P. Wakei, mengatakan program tersebut dirancang agar setiap keluarga memiliki aktivitas pertanian yang dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga.
“Kami sedang menyiapkan program Gerakan Wajib Tani agar setiap keluarga di Distrik Nabire Barat dapat memiliki dan mengelola lahan pertanian. Harapannya, pertanian tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga mampu meningkatkan ekonomi keluarga,” ujar Osea di Nabire, Kamis.
Menurutnya, gagasan tersebut muncul dari besarnya potensi sektor pertanian di Nabire Barat yang masih dapat dikembangkan. Pemerintah distrik menilai sektor pertanian memiliki peran penting dalam memperkuat perekonomian masyarakat sekaligus mendukung ketersediaan pangan di tingkat lokal.
Pengembangan pertanian juga diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas konsumsi pangan dan gizi masyarakat. Salah satu langkah yang mendapat perhatian adalah pengembangan padi biortifit, yang telah memasuki tahap panen perdana pada 29 Juli 2026 setelah ditanam sejak April lalu.
Osea menyambut positif pengembangan varietas tersebut karena dinilai dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi dan upaya pemerintah dalam menekan angka stunting.
“Kami menyambut baik pengembangan padi biortifit karena manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain meningkatkan produksi pangan, kandungan gizinya juga dapat mendukung upaya penanganan stunting sehingga masyarakat dapat tumbuh lebih sehat dan kuat,” katanya.
Saat ini, terdapat dua kelompok tani Orang Asli Papua (OAP) di wilayah Nabire Barat yang masing-masing beranggotakan belasan petani. Pemerintah distrik juga mencatat terdapat lebih dari enam kelompok tani nusantara yang berpotensi dilibatkan dalam pengembangan Gerakan Wajib Tani.
Meski memiliki potensi yang cukup besar, pengembangan pertanian di Nabire Barat masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan ketersediaan air pada musim tanam yang berdampak terhadap produktivitas pertanian.
Osea mengatakan persoalan irigasi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hasil panen petani belum maksimal. Karena itu, pemerintah distrik berharap peningkatan dan perbaikan jaringan irigasi dapat terus dilakukan untuk mendukung keberlangsungan kegiatan pertanian masyarakat.
Dukungan terhadap sektor pertanian tersebut juga datang melalui rehabilitasi jaringan irigasi Bendung Kali Bumi. Balai Wilayah Sungai (BWS) Papua saat ini tengah melakukan rehabilitasi sekitar 2,8 kilometer saluran primer irigasi di Distrik Nabire Barat.
PPK Irigasi dan Rawa Wilayah I BWS Papua, Muh Syahril, menjelaskan pekerjaan tersebut dilakukan untuk meningkatkan keandalan jaringan irigasi yang selama beberapa tahun belum mendapatkan perbaikan secara menyeluruh.
Pekerjaan rehabilitasi ditargetkan mencapai 100 persen pada akhir November 2026. Namun, pengoperasian aliran air akan dilakukan secara bertahap mulai akhir Agustus 2026 agar kebutuhan air bagi petani tetap dapat dipenuhi selama proses konstruksi berlangsung.
Dengan adanya Gerakan Wajib Tani yang didukung perbaikan infrastruktur irigasi, Pemerintah Distrik Nabire Barat berharap potensi pertanian dapat dikelola secara lebih optimal sehingga mampu menciptakan sumber penghasilan baru, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.


