By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Suara News PapuaSuara News PapuaSuara News Papua
Reading: Melalui Tradisi Bakar Batu, Tercermin Tingginya Toleransi Masyarakat Papua
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Suara News PapuaSuara News Papua
Font ResizerAa
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Sosial Budaya

Melalui Tradisi Bakar Batu, Tercermin Tingginya Toleransi Masyarakat Papua

SuaraNews Papua
Last updated: 4 April 2021 16:36
SuaraNews Papua 5 tahun ago
Share
SHARE

Papua – Pada umumnya tradisi bakar batu bagi masyarakat pegunungan Papua merupakan oesta daging babi. Namunbeberapa waktu ini  di sejumlah tempat, pesta bakar batu sudah tidak lagi hanya daging babi, juga menyediakan daging ayam yang akan disuguhkan untuk mereka yang tidak bisa makan babi. Boleh jadi, ini menjadi bukti lain dari tingginya toleransi masyarakat Papua.

Seperti halnya pada perayaan Paskah di Tolikara, Tokoh masyarakat Tolikara Usman Wanimbo, dengan masyarakatnya di sebuah distrik yang tak jauh dari Kota Karubaga, Ibu Kota Kabupaten Tolikara. Sejak pagi, sebelum  rombongan datang, sebagian masyarakat sibuk menyiapkan bakar batu. Ada yang datang membawa kayu, sayuran, rumput, dan batu. Ada yang menyiapkan lubang, ada yang mulai membakar batu-batu dan ada pula yang memotong babi dan ayam.

Semua berlangsung sangat cepat. Ketika batu-batu sudah membara dia atas kayu yang dibakar, batu dimasukkan ke dalam lubang sedalam kurang lebih 50 cm yang sudah disiapkan dengan alas rumput. Di atas batu kembali dimasukkan rumput atau sayuran, menyusul daging, betatas, hipere (ubi), pisang juga dimasukkan ke dalamnya. Jika semua sudah masuk, kemudian ditutup kembali dengan sayuran dan rumput. Untuk mengikatnya, mereka menaruh batu-batu di atas tumpukan tesebut.

Sambil menunggu daging matang, di situlah para tokoh madyarakat dan kepala suku memberikan pidato dan imbauan. Ratusan masyarakat yang datang duduk di tanah secara berkelompok sesuai kampung masing-masing. Mereka mendengar dengan baik pidato bupati dan tokoh masyarakat setempat.

Menginjak jam makan siang, dan pidato usai, sebagian yang bertugas masak segera membongkar lubang bakar batu. Mereka mengiris daging yang besar-besar itu menjadi lebih kecil. Para perwakilan kelompok mendatangi lubang bakar batu. Mereka dapat jatah untuk masing-masing kelompok.

Tokoh masyarakat yang datang mendapat antaran pertama bakaran. Juga para tokoh masyarakat non-Kristen yang hadir disuguhi daging ayam hasil bakar batu itu. Setelah itu baru giliran masyarakat yang hadir.

Masyarakat antre rapi dan tidak rebutan. Masing-masing kelompok mewakilkan salah satu anggotanya untuk mendekat ke lubang bakaran. Setelah mereka mendapat bagian, wakil ini lari menuju tempat kelompoknya berkumpul. Kalau masih kurang, mereka kembali lagi ke tempat bakar batu. Hebatnya, ratusan orang yang datang akan dapat bagian semua.

Bakar batu merupakan tradisi suku Dani di Pegunungan Tengah Papua. Atau di suku Lani disebut lago lakwi. Di Wamena, bakar batu lebih dikenal dengan sebutan kit oba isago, sedangkan di Paniai disebut dengan mogo gapil. Sementara itu di masyarakat Papua pantai, acara ini dikenal dengan istilah barapen.

Dalam tradisi bakar batu terdapat makna mendalam, yakni sebagai ungkapan syukur pada Tuhan dan simbol solidaritas yang kuat. Bakar batu merupakan ritual memasak bersama yang bertujuan untuk mewujudkan rasa syukur kepada sang pemberi kehidupan.

Bakar batu juga sebagai alat bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat, menyambut kabar bahagia, atau mengumpulkan prajurit untuk berperang dan pesta setelah perang. Atau bahkan media perdamaian antarkelompok yang berperang.

Ritual ini juga sering dilakukan untuk menghimpun orang pada prosesi pembukaan ladang, kelahiran, kematian, berburu, membangun rumah, perkawinan, dan juga hal-hal lain yang mengharuskan mobilisasi massa dalam jumlah besar.

Upacara bakar batu juga merupakan simbol kesederhanaan masyarakat Papua. Muaranya ialah persamaan hak, keadilan, kebersamaan, kekompakan, kejujuran, ketulusan, dan keikhlasan yang membawa pada perdamaian.

Bahkan di komunitas muslim Papua, misalnya, di daerah Walesi Jayawijaya dan komunitas muslim Papua daerah lain, dalam menyambut Ramadan, mereka juga melakukan bakar batu. Namun media yang dibakar diganti ayam

You Might Also Like

Putri Papua Dipercaya Membawa Baki pada Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI di Istana Merdeka

Tokoh Adat Dorong Peningkatan Literasi dan Pendidikan untuk Perkuat Peran Masyarakat Adat dalam Pembangunan

Dogiyai Dorong Penetapan Cagar Budaya untuk Perkuat Pelestarian Warisan Suku Mee

Paniai Dipilih Sebagai Titik Awal Gerakan Penghijauan Papua Tengah 2045

Integrasi Papua ke Indonesia, Akademisi Unud: Sah Secara Hukum Internasional

Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Ikuti lomba, Binmas Noken dan Jemaat GPDI Sion Papua turut meriahkan Paskah 2021
Next Article Tokoh Perempuan Papua: KKB Ditunggangi Kepentingan Politik
© {year} Suaranewspapua.com
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?