Papua Pegunungan– Sebuah video berdurasi dua menit 12 detik beredar luas di media sosial. Rekaman itu memperlihatkan aksi penyiksaan terhadap dua perempuan Orang Asli Papua (OAP) yang dilakukan oleh kelompok bersenjata di wilayah Papua Pegunungan.
Dalam video tersebut, seorang perempuan tampak diikat dan disiksa dengan besi panas oleh pelaku. Tindakan keji itu diduga dilakukan karena korban menolak melayani permintaan kelompok bersenjata tersebut.
Perempuan lainnya terlihat dalam kondisi luka melepuh akibat ditempeli kayu dan besi panas. Kedua korban terdengar berteriak kesakitan selama penyiksaan berlangsung.
Hingga kini, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) maupun para aktivis HAM belum memberikan tanggapan resmi atas beredarnya video itu.
Kemunculan video tersebut menimbulkan gelombang reaksi dari publik. Sejumlah warganet dan pegiat media sosial mempertanyakan sikap Komnas HAM dan aktivis HAM yang dianggap diam dalam menyikapi peristiwa ini.
“Jangan hanya bersuara ketika korbannya aparat atau pihak tertentu. Lihat sendiri siapa pelakunya,” tulis John Kogoya, seorang aktivis kemanusiaan, melalui unggahan di media sosial. Ia juga menyinggung juru bicara OPM, Sebby Sambom, agar tidak mengalihkan tuduhan dengan menyebut pelaku berasal dari pihak militer Indonesia.
John menutup pernyataannya dengan mengecam keras aksi tersebut dan menyebut para pelaku “tidak memiliki hati nurani dan rasa kemanusiaan.”


