Jakarta — Nuansa Papua terasa kuat menyelimuti red carpet Jakarta pada gala premier film anak Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua, Selasa (27/1). Bukan hanya deretan bintang dan pejabat negara yang hadir, melainkan juga kisah tentang kearifan adat Papua yang kini disuarakan ke panggung nasional.
Disutradarai oleh Anggi Frisca, film ini menghadirkan Papua bukan sebagai latar eksotis, tetapi sebagai ruang hidup yang sarat makna. Melalui karakter Maira (Elisabet Sisauta), gadis 12 tahun dari pedalaman Papua, penonton diajak mengenal cara pandang masyarakat adat yang memuliakan hutan sebagai “ibu” yang memberi kehidupan.
Melanjutkan perjalanan Tegar (M. Aldifi Tegarajasa), film ini menganyam persahabatan lintas budaya yang berangkat dari nilai-nilai Papua: keberanian, kebersamaan, dan tanggung jawab menjaga alam warisan leluhur. Hutan adat tak digambarkan sekadar bentang hijau, melainkan ruang spiritual, sumber pangan, dan identitas kolektif masyarakat Papua.
“Bagi orang Papua, hutan bukan milik manusia, manusia yang milik hutan,” ujar Anggi Frisca.
“Nilai ini yang ingin kami sampaikan ke anak-anak Indonesia dengan bahasa yang sederhana dan jujur.”
Gala premier ini turut menjadi ruang dialog kebudayaan. Para pejabat negara yang hadir menyoroti pentingnya menjaga Papua tanpa memutus akar adatnya. Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menegaskan pengakuan hutan adat sebagai bentuk penghormatan terhadap sistem hidup masyarakat Papua, sementara Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menilai film ini memperlihatkan wajah Indonesia yang beragam namun satu dalam nilai.
Ketua Komite Otonomi Khusus Papua, Velix Wanggai, menyebut film ini sebagai narasi baru tentang Papua—bukan sebagai wilayah konflik, melainkan pusat kebijaksanaan ekologis yang relevan bagi masa depan bangsa.
Keaslian budaya Papua dalam film ini diperkuat lewat proses produksi yang partisipatif. Sebanyak 70 persen kru berasal dari pemuda Papua, dengan para pemeran menjalani pelatihan selama empat bulan, termasuk pendalaman adat, bahasa tubuh, dan relasi manusia dengan alam.
“Kami ingin Papua bercerita tentang dirinya sendiri,” tegas Anggi.
“Ini karya bersama, dari Papua untuk Indonesia.”
Produser film, dr. Chandra Sembiring, melihat film sebagai medium budaya yang mampu menjembatani empati. Baginya, cerita anak adalah cara paling jujur untuk memperkenalkan nilai luhur masyarakat adat kepada dunia yang kian terputus dari alam.
Film pertama Tegar (2022) telah meraih penghargaan di lebih dari 22 negara dan ditonton 1,7 juta pelajar Indonesia. Kini, melalui Teman Tegar: Maira, kisah tersebut berkembang menjadi suara budaya Papua—sebuah bisikan dari hutan yang mengingatkan manusia akan asal-usulnya.


