By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Suara News PapuaSuara News PapuaSuara News Papua
Reading: Max Ohee: 1 Mei Bukan Hari Aneksasi, tapi Simbol Kembalinya Papua ke Pangkuan NKRI
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Suara News PapuaSuara News Papua
Font ResizerAa
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Headline News

Max Ohee: 1 Mei Bukan Hari Aneksasi, tapi Simbol Kembalinya Papua ke Pangkuan NKRI

SuaraNews Papua
Last updated: 30 April 2025 18:40
SuaraNews Papua 1 tahun ago
Share
SHARE

Jayapura – Wakil Ketua II Majelis Rakyat Papua (MRP) dari unsur adat, Max Ohee, menanggapi isu yang kembali mencuat di tengah masyarakat terkait peringatan tanggal 1 Mei. Ia menegaskan bahwa narasi yang menyebut tanggal tersebut sebagai hari aneksasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah hoaks dan bentuk pembohongan publik yang disebarkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab serta tidak memahami sejarah.

Max Ohee, yang juga merupakan putra dari almarhum Bapak Ramses Ohe salah satu tokoh sejarah dan anggota Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969—menjelaskan bahwa keterlibatan Papua dalam NKRI merupakan hasil dari proses sejarah yang sah dan diakui dunia internasional.

“Belanda sudah tidak punya kewenangan lagi sejak tahun 1961, sesuai keputusan PBB, Belanda menyerahkan wilayah Papua kepada Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada tahun 1969, melalui mekanisme Pepera yang melibatkan 1026 tokoh perwakilan rakyat Papua, keputusan bulat diambil untuk bergabung dengan Indonesia. Sebelumnya, pada tanggal 1 Mei 1963, bendera Merah Putih telah dikibarkan di tanah Papua sebagai simbol resmi bergabungnya wilayah ini ke dalam NKRI setelah Belanda hengkang.

“Proses itu sah dan terdokumentasi dalam komunikasi resmi antara pemerintah Indonesia, Belanda, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Karena itu, membicarakan ulang status politik Papua hari ini adalah langkah mundur,” tegas Max Ohee.

Lebih lanjut, ia mengajak kelompok-kelompok yang masih meragukan sejarah integrasi Papua ke dalam NKRI dan generasi muda untuk memahami sejarah yang benar dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi negatif.

“1 Mei harus diperingati sebagai hari persatuan nasional. Sebab sebelum itu, wilayah negara kita belum sepenuhnya bersatu hingga batas timur di Tanah Papua,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pada peringatan 1 Mei mendatang, nama-nama para pejuang yang terlibat dalam proses Pepera akan diumumkan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa mereka.

“Tanggal 1 Mei bukanlah hari aneksasi tetapi hari kembalinya Tanah Papua ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.

You Might Also Like

Pemerintah Didorong Percepat Pemulihan Pascakonflik di Jayawijaya

Head of Task Force Operation Peace Cartenz 2026 Visits Sinak Police Posts, Reinforces Community-Centered Security Approach

South Papua Strengthens Education Through Boarding School Development

Jayapura City Strengthens Social Protection for Public Transport Drivers

Tokoh Pemuda Tabi Ajak Masyarakat Jaga Kondusivitas Jelang Penyampaian Aspirasi

Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article “Brutal Armed Group Attack on Human Rights Commission Sparks Outrage in Parliament, Nation Must Not Stay Silent”
Next Article “Max Ohee: May 1 is Not Annexation Day, but a Symbol of Papua’s Return to NKRI
© {year} Suaranewspapua.com
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?