Jayapura – Tokoh Adat Tabi, Papua, Hironimus Taime mengusulkan dialog dan perundingan sebagai salah satu jalan keluar untuk menyelesaikan konflik di Tanah Papua, dengan mengedepankan keselamatan masyarakat serta penyelesaian persoalan secara damai.
Hironimus mengatakan perdamaian menjadi prasyarat penting bagi pembangunan dan kemajuan Papua. Menurut dia, konflik bersenjata dan kekerasan hanya menimbulkan korban serta penderitaan sehingga tidak dapat menjadi solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Papua harus damai supaya maju. Tidak bisa menyelesaikan masalah dengan perang atau saling tembak, karena pada akhirnya tidak ada yang benar-benar menang dan tidak ada yang benar-benar kalah,” kata Hironimus dalam pernyataannya, Jumat (21/8).
Ia mengatakan kepentingan masyarakat adat dalam mempertahankan tanah dan hak adat tetap perlu diperhatikan. Namun, perjuangan tersebut, kata dia, sebaiknya ditempuh melalui mekanisme damai agar tidak menimbulkan korban jiwa.
Hironimus juga mengakui peran TNI dan Polri dalam menjalankan tugas konstitusional menjaga pertahanan dan keamanan negara. Karena itu, ia menilai masyarakat adat maupun aparat keamanan memiliki kepentingan yang sama untuk menciptakan Papua yang aman dan damai.
Sebagai langkah awal, Hironimus mengusulkan pembentukan juru damai atau mediator yang disepakati para pihak. Ia mengusulkan kelompok TPNPB menentukan perwakilan atau juru bicara untuk menyampaikan aspirasi, sementara pemerintah menunjuk perwakilan untuk duduk bersama dalam forum dialog.
Menurut dia, masing-masing pihak dapat terlebih dahulu menyiapkan bahan tertulis berisi harapan, persoalan dan aspirasi yang ingin disampaikan. Selanjutnya, perwakilan kedua pihak dapat bertemu di Jayapura untuk membahas berbagai persoalan secara terbuka dan damai.
Hironimus menyatakan dirinya siap menjadi mediator apabila gagasan tersebut disepakati para pihak. Ia mengusulkan proses awal dialog dapat dilakukan dalam tiga bulan hingga November 2026, dengan harapan apabila tercapai kesepakatan, Desember 2026 dapat menjadi momentum perayaan Natal secara damai di berbagai wilayah Tanah Papua.
“Ini salah satu usulan upaya Papua damai. Mari kita membuka jalan dialog demi keselamatan masyarakat dan masa depan Papua,” ujarnya.
Ia menegaskan perdamaian bukan berarti menghilangkan perbedaan pandangan, melainkan menyediakan ruang bagi setiap pihak untuk menyampaikan aspirasi tanpa kekerasan dan mencari penyelesaian yang dapat diterima bersama.
“Papua membutuhkan kedamaian agar masyarakat dapat membangun masa depan dengan lebih baik,” kata Hironimus.


