By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Suara News PapuaSuara News PapuaSuara News Papua
Reading: Nicolaas Jouwe: OPM Tidak Lahir dari Keinginan Bangsa Papua, tetapi Didirikan Belanda untuk Memecah Indonesia
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Suara News PapuaSuara News Papua
Font ResizerAa
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Keamanan dan Ketertiban

Nicolaas Jouwe: OPM Tidak Lahir dari Keinginan Bangsa Papua, tetapi Didirikan Belanda untuk Memecah Indonesia

SuaraNews Papua
Last updated: 29 April 2023 15:19
SuaraNews Papua 3 tahun ago
Share
SHARE

Jayapura – Tokoh pendiri Organisasi Papua Merdeka atau OPM, Nicolaas Jouwe mengungkap fakta bahwa OPM tidak lahir dari keinginan bangsa Papua sendiri. OPM justru didirikan oleh Belanda untuk memecah Indonesia.

Nicolaas Jouwe merupakan pendiri OPM dan diperintah oleh Belanda untuk membuat bendera Bintang Kejora yang saat ini menjadi simbol Organisasi Papua Merdeka. Fakta ini diungkap Nicolaas Jouwe pada sebuah wawancara dan diunggah di akun Youtube.

Organisasi Papua Merdeka atau OPM kembali menjadi perbincangan setelah beberapa anggota Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB Papua melakukan penyerangan terhadap TNI-Polri maupun masyarakat di Papua.

Bahkan, Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB Papua menyandera pilot Susi Air Captain Phillip Mark Mehrtens dan menyerang anggota TNI-Polri yang berusaha melakukan pembebasan sandera.

Penyerangan OPM terhadap anggota TNI-Polri maupun masyarakat yang dijadikan sebagai tameng hidup, karena adanya keinginan untuk berdiri sendiri sebagai negara dan keluar dari Indonesia. Ketua Organisasi Papua Merdeka Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau OPM TPNPB, Jeffrey Bomanak bahkan menyatakan Papua bukan termasuk dalam kedaulatan Republik Indonesia.

Nicolaas Jouwe yang merupakan tokoh pendiri OPM menegaskan bahwa saat Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, wilayah Indonesia termasuk Papua. Namun, Belanda yang tak rela negara bekas jajahannya merdeka, lalu mendirikan OPM untuk mengganggu dan memecah Indonesia.

Nicolaas mengungkapkan, pihak Belanda saat itu melarang warga Papua untuk bertemu orang luar negeri, bahkan dengan orang Indonesia. Belanda mengatakan bahwa orang Papua adalah warga Papua dan mereka itu orang Ameri serta orang Indonesia adalah orang Ameri.

Selain itu Belanda juga mengatakan bahwa orang Indonesia adalah bangsa Melayu bukan bangsa Papua.

“Belanda sengaja bikin ini supaya permusuhan antara kami orang Papua dengan orang Indonesia itu timbul, dan orang Belanda mengajarkan pada saya bahwa Indonesia itu musuh,” ungkap Nicolaas.

Nicolaas menjelaskan bahwa Belanda saat itu memaksa orang Papua untuk membentuk militernya sendiri dan beberapa orang yang fanatik kemudian mendirikan OPM.

“OPM itu tidak lahir dari keinginan bangsa Papua, namun lahir dari pikiran beberapa serdadu Papua dan semua orang Papua juga tidak mengetahuinya,” paparnya.

Menurut Nicolaas, OPM dibentuk dari sebuah kelompok kecil yang dilatih dan merupakan korps sukarelawan dari bangsa Papua.

Nicolaas yang lama tinggal di luar negeri saat berupaya membentuk Papua merdeka kemudian akhirnya sadar dan kembali ke Indonesia, mengungkapkan bahwa masuknya Papua ke Indonesia tak lepas dari pertemuan antara Presiden Soekarno dengan Presiden Kenedy.

Dalam pertemuan itu Soekarno mengungkapkan bahwa Papua harus masuk ke dalam kedaulatan pemerintah Indonesia.

Kemudian pada 15 Agustus 1962 Belanda dan Indonesia setuju bahawa Papua Barat merupakan wilayah kedaulatan Indonesia.

Pada satu Mei 1963 secara resmi wilayah Papua Barat masuk ke Indonesia. Hanya saja, penyerahan wilayah Papua ke Indonesia menimbulkan masalah politik di Belanda.

Belanda tidak mau melihat orang Papua dimasukkan ke dalam Indonesia dan mereka tetap menginginkan Papua harus berdiri sendiri atau bergabung dengan bangsa lain.

You Might Also Like

Ketua Barisan Merah Putih Papua Kecam Penyanderaan Warga Sipil di Jila

Bripda Jhon Galu Situmorang Injured in Shooting in Tolikara, Operation Peace Cartenz Task Force Develops Investigation

Hasil Gelar Perkara, Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz dan Polres Yahukimo Kembangkan Penegakan Hukum Kasus Pembunuhan Bripka Anumerta Fredy Lukas Awes

Satgas Kepolisian Operasi Damai Cartenz Respons Gangguan Tembakan di Polsek Asologaima, Situasi Kembali Aman

Personnel of Operation Peace Cartenz-2026 Equip Themselves with Health Education, Forms of Concern for Member Readiness and Welfare

TAGGED: Nicolaas Jouwe: OPM Tidak Lahir dari Keinginan Bangsa Papua, tetapi Didirikan Belanda untuk Memecah Indonesia
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Police Investigate Case of Fire in Former Employee Mess of PT. Superior in Puncak Regency
Next Article Kapolda Ungkap Pimpinan KKB Joni Botak Tewas Dihabisi Lewis Kogoya
© {year} Suaranewspapua.com
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?