Sabtu 4 Desember, 2021
Beranda Ekonomi Bisnis Kompor Oli Bekas, Inovasi Yason Agapa Sang Pemuda Bumi Cenderawasih

Kompor Oli Bekas, Inovasi Yason Agapa Sang Pemuda Bumi Cenderawasih

Suaranewspapua.com Tugas akhir di ujung jenjang pendidikan strata satunya memberi kesempatan bagi Yason Agapa menemukan ide membuat kompor berbahan bakar oli bekas.

Kreasinya itu memang bukan sama sekali baru. Namun, inovasi mahasiswa Universitas Cenderawasih asal Deiyai Papua itu diyakini ramah lingkungan, karena mendaur ulang oli bekas yang selama ini dibuang begitu saja.

Muda-mudi asal Papua berulang kali mencuat berkat prestasi cemerlang di bidang akademik. Tahun lalu, sejumlah inovasi yang dianggap dapat bermanfaat bagi komunitas lokal juga bermunculan dalam ajang pencarian ‘ilmuwan muda Papua’.

Yason lulus Strata Satu pada akhir tahun 2020, mengungkapkan sempat dipandang sebelah mata saat mengajukan gagasan membuat kompor berbahan oli bekas ini. Namun Yason yakin dapat menerapkan ide itu, yang menurutnya tidak sulit dikerjakan.

Dia mengaku tidak menghabiskan waktu lama untuk merangkai kompor oli bekas ini. Tantangan terbesarnya justru menemukan penjual mesin peniup angin atau blower di Jayapura. Mesin ini menjadi komponen termahal kompornya, karena seharga sekitar Rp. 1.000.000.

Proses menyalakan kompor buatan Yason membutuhkan waktu sekitar lima menit. Pertama, mesin peniup angin harus dioperasikan. Angin dari mesin ini dialirkan menuju tungku melalui pipa sepanjang satu meter.

Yason menampung oli bekas di dalam galon air minum. Galon ini diletakkan dalam posisi yang lebih tinggi dari blower dan tungku.

Setelah mesin peniup angin berputar, oli bekas diteteskan melalui pipa kecil agar mengalir ke tungku. Setelah itu, barulah Yason menyalakan sumbu di tungku menggunakan korek api.

“Kompor ini aman. Tidak akan terbakar atau meledak,” klaim Yason.

Empat bulan setelah kompor buatannya di-acc tim dosen, Yason mengaku sudah menjual lebih dari 50 kompor ke warga Jayapura dan Nabire.

Yason menjual kompor ini seharga Rp. 2 juta atau relatif lebih tinggi dari pada kompor gas biasa. Dia berkata, angka itu muncul karena harga komponen dasar kompor ini, salah satunya mesin peniup angin, memang mahal.

“Kompor biasa lebih murah, tapi kompor ini apinya lebih besar, masak jadi lebih cepat. Bahan bakarnya kalau habis juga tinggal ambil di bengkel,” kata Yason.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

KETUA API PROVINSI PAPUA AJAK MASYARAKAT JAGA KAMTIBMAS JELANG PERAYAAN NATAL 2021 DAN TAHUN BARU 2022

Jayapura - Pada hari Jumat tanggal 3 Desember 2021, Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Provinsi Papua pendeta Jimmy Koirewoa, S.Th mengajak semua...

Jelang HUT OPM Polri Lakukan Patroli Skala Besar di Maybrat

Manokwari. Dansat Brimob Polda Papua Papua Barat, Kombes pol. Semmy Ronny Thabaa., dalam keterangannya kepada wartawan mengungkapkan, satuan gabungan melakukan operasi berskala...

Polri Pastikan Keamanan Terjaga Saat HUT OPM 1 Desember

Jakarta. Kepolisian Negara Republik Indonesia memastikan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) terkait dengan adanya kegiatan peringatan HUT Organisasi Papua Merdeka (OPM),...

Jelang Natal dan Tahun Baru, Ini Pesan Tokoh Agama Papua

Jayapura – Dalam rangka menyambut Natal dan Tahun Baru 2022, Tokoh Agama Papua Bapak Pdt. M.P.A Mauri, S.Th, mengajak seluruh Masyarakat Papua...

Recent Comments