Sabtu 27 November, 2021
Beranda Uncategorized Tokoh Adat Lembah Grime-Papua: Hari Pribumi Bukan Hari Papua Merdeka

Tokoh Adat Lembah Grime-Papua: Hari Pribumi Bukan Hari Papua Merdeka

Suaranewspapua.com- SENTANI- Papua menjadi daerah yang memiliki banyak adat dan istiadat. Memperingati tanggal 9 Agustus, masyarakat di Kampung Bring Distrik Kemtuk Gresi Kabupaten Jayapura menggelar perayaan Hari Masyarakat Pribumi se-dunia (10/08).

Hari masyarakat pribumi se-dunia adalah salah satu capaian untuk mengangkat hak-hak masyarakat adat, termasuk di Papua yang masih kental dengan kehidupan berbudayanya.

Menurut John Lenstro hari masyarakat adat telah berulang-ulang kali dilakukan sebelumnya, namun kegiatannya hanya bersifat internal oleh setiap pemangku adat setempat. OLeh sebab itu lahirnya hari pribumi ini adalah sebuah kebanggaan bagi seluruh orang Papua secara khusus.

“Hari ini kita bisa berbangga karena sebuah persatuan. Hari yang istimewa untuk menyatukan hak-hak masyarakat adat. Namun yang perlu diLuruskan adalah hari masyarakat adat bukanlah sebagai hari Papua merdeka,” ungkapnya dalam pidato dihadapan masyarakat kampung Bring yang dihadiri berbagai pejabat teras di Kabupaten Jayapura.

Sementara Bupati Jayapura, Mathius Awaitouw, S.Sos., M.M. mengatakan bahwa adat berasal dari masyarakat kampung asli, dan bukan dari pengaruh budaya luar. Oleh karena itu ia meminta kepada masyarakat untuk menjaga adat yang telah dianugerahkan oleh Tuhan.

“Adat berasal dari kita, berasal dari kampung-kampung kita. Maka kita harus bisa menjaganya dengan penuh rasa bangga,” tambahnya.

Kemtuk Gresi merupakan wilayah yang jarang diperhatikan, kondisinya yang jauh dari hiruk pikuk kota, dan akses yang terbatas diduga sebagai salah satu kendala dalam membangun daerah tersebut. Terlebih wilayah ini sempat dikata sebagai daerah ‘merah’ karena pernah dijadikan basis kelompok separatis Papua.

Walaupun demikian Bupati melihat potensi yang besar dalam perjalanan Kampung Bring. Ia menuturkan bahwa Lembah Grime menyimpan berjuta potensi yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya.

“Saya akan kukuhkan wilayah ini dengan pondasi yang kuat sebagai daerah percontohan. Termasuk untuk tahun 2022 kita akan agendakan hari masyarakat adat se-Indonesia di Tanah ini,” ungkapnya yang lantas disambut dengan tepuk tangan hadirin.

Diakhir kesempatannya Bupati mengatakan bahwa keberadaannya di Kampung Bring adalah sebagai bentuk hadirnya negara disektor terkecil sekalipun yaitu masyarakat adat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Binmas Noken Tolikara Melaksanakan  Pemolisian Masyarakat melalui program KOTEKA

Papua- Pada Kamis, tanggal 24  November 2021 Satgas Binmas Noken Wilayah Tolikara yang diawaki oleh Iptu widada, Brigadir Petrus Hamokwarong, Briptu Yordan...

Ini dia 5 Point Pernyataan Sikap Dari Tokoh Adat Papua Menjelang 1 Desember

Jayapura, Menjelang tanggal 1 Desember 2021 yang diklaim oleh kelompok ataupun simpatisan Papua Merdeka sebagai hari kemerdekaan Papua barat tampaknya tahun ini...

Pemuda Saireri : Menjelang 1 Desember Papua Harus Tetap Menjadi Tanah Damai

Jayapura, 1 Desember setiap tahunnya yang diklaim sebagai Hari Kemerdekaan Papua Barat, selalu menempatkan Papua pada situasi keamanan tertentu di beberapa wilayah...

Herman Yoku : HUT Papua Barat, 1 Desember dan Bintang Kejora Adalah Sebuah Kekeliruan Sejarah dan Pembodohan

Jayapura, Menjelang 1 Desember setiap tahunya yang diklaim sebagai HUT Papua Barat atau hari kemerdekaan bangsa Papua, para aktivis dan simpatisan Papua...

Recent Comments